Selasa, 21 Februari 2012

tahlil, jaranan dan SIPER




Selama ini terdapat keyakinan bahwa tradisi tahlilan untuk orang yang sudah meninggal  dilakukan pada hari-hari tertentu seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari,  hal ini dianggap tradisi Hindu atau Budha yang kemudian substansinya dirubah oleh para wali songo dengan mengisi bacaan dan doa dari tradisi Islam, termasuk bacaan tahlil sehingga akhirnya disebut tahlilan.

”Dalam tradisi Hindu, tidak ada peringatan 7 hari sampai dengan 1000 hari. Yang ada peringatan 12 tahun sekali, Para musyafir yang berasal dari kerajaan Campa yang kebanyakan beragama Islam dan memiliki tradisi tasawuf beraliran Syiah lah yang mengembangkan tradisi ini. Makanya tak heran ketika Imam Khumeini meninggal, juga diadakan tahlil untuk mendoakannya.

Sehingga di pulau jawa banyak sekali ditemui tahlil   pada acara kematian,  bahkan acara tahlil juga dibuat sebagai ajang silaturahmi antar tetangga biasanya dilakukan pada malam Jum`at.
Selain tahlil Waliyullah Kanjeng Sunan Kali Jaga juga membawa kesenian untuk menyebarkan agama Islam, salah satunya adalah kesenian Jaranan ( Kuda Lumping ),
tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
SIPER, melalui rapat  anggota memutuskan untuk menyatukan tahlil dan jaranan sebagai sarana sekaligus ajang bersilaturrahmi antar anggota, jadi tidak ada jurang pemisah antara ulama` dan umaroh, kyai ditugaskan untuk memimpin tahlil yang diikuti oleh seluruh anggota yang kesemuanya adalah petani, setelah acara tahlil usai dilanjutkan dengan Nonton bareng pegelaran seni jaranan yang dimainkan oleh para anggota SIPER, acara tersebut dilaksanakan satu bulan sekali tepatnya di hari Senin legi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar